Dalam Investasi, Emosi Lebih Kuat dari Fakta
Penyesalan dan
kebanggaan menjadi tolok ukur bagi para investor saham, demikian hasil
sebuah penelitian terbaru. Hal ini mementahkan asumsi bahwa fakta-fakta
objektif menjadi sandaran orang untuk berinvestasi saham. Dan fenomena
ini terus terjadi meski telah diketahui bahwa faktor emosi bisa
menjerumuskan ke jurang kebangkrutan atau kerugian.Brad Barber, pengajar Graduate School of Management di University of California menyatakan, setelah menjual sahamnya, para investor biasanya merasa kecewa saat menyaksikan harga saham tersebut naik terus dan terlebih karena penyesalan karena telah menjualnya.
"Mereka mengharapkan bahwa kekecewaan dan sesal akan bertambah intensitasnya jika mereka membeli sebuah saham daripada tidak membelinya kembali. Sehingga para investor lebih sering untuk membeli kembali saham yang telah dijual sebelumnya untuk keuntungan yang ditukarkan di bawah harga saat mereka menjual, " ujarnya sebagaimana dilansir dari Futurity.org.
Barber dan timnya telah melaksanakan sejumlah penelitian selama beberapa tahun mengenai pasar saham dan investor. Analisis menyiratkan bahwa para investor sering membuat keputusan berdasarkan emosi seperti penyesalan, kecewa, bangga bahkan kepuasan. Temuannya itu dipublikasikan di Journal of Marketing Research. (sumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar